hujan tak lagi turun
seperti kemarin
ketika kau tinggalkan beberapa percikan air mata
untukku
mungkin tak kau tahu
untaian kata yag dulu menyatu selembut kapas dalam raga ku
kini menyayat
dan melukaiku
seperti pisau yang kau asah
hingga
tak mampu ku raih tiang-tiang rapuh
yang berdiri tegak
menantangku dalam kegelapan hati
berhari-hari
dan berbulan-bulan lamanya
luka itu menganga
begitu perih
tapi kau tetap saja tertawa dalam kegaluan
kini rasa itu t’lah aku kubur dalam-dalam
karna semua itu
mungkin hadiah yang kau berikan
untukku
Tidak ada Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>